"Change Your Water, Change Your Life"

"Sebab perubahan besar menuju kesejahteraan umat selalu dimulai dari kualitas hidup yang sehat."

"Kemaslahatan Nyata"

"Satu langkah kecil dalam aksi nyata jauh lebih berharga bagi sesama daripada ribuan kata indah tanpa realita."

"Kemurnian Kebaikan"

"Bagaikan air dengan kualitas premium, hiduplah dengan memberikan kesegaran yang alami dan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar."

"Kemurnian Kebaikan"

Kangen Water memberikan air dengan kualitas premium yang tidak hanya segar tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan. Dengan teknologi ionisasi canggih, air ini memiliki tingkat pH yang seimbang dan mengandung antioksidan alami.

"Menghidupkan Waktu Luang"

"Jangan biarkan waktu kosong melumpuhkan jiwa; jadikan ruang sepi sebagai momentum terbaik untuk investasi spiritual dan evaluasi diri."

Rabu, 02 Februari 2011

TIPS MEMILIH NAMA UNTUK SANG BUAH HATI

Memilih nama yang tepat bagi sang buah hati adalah tugas yang gampang-gampang susah. Karena nama adalah sesuatu yang dibawa si kecil seumur hidupnya. Ikuti beberapa tips cerdas dalam memberikan nama untuk sang buah hati.

Tak sedikit orangtua yang merasa bingung dalam memberikan nama untuk anaknya, biasanya orangtua takut nama tersebut menjadi beban bagi anak.

Dalam pemilihan nama terkadang tidak hanya melibatkan orangtua saja, tapi kerabat, keluarga atau teman juga bisa memberikan saran dan ide-ide untuk nama si bayi.

Meskipun demikian, keputusan akhir untuk nama bayi tetap terletak pada orangtua. Karena itu tak ada salahnya untuk mulai mencari nama anak sejak jauh-jauh hari.

Ada beberapa hal yang turut dipertimbangkan dalam memutuskan sebuah nama untuk bayi, seperti arti dari nama, menghindari inisial yang memalukan serta bagaimana nama panggilan untuk si kecil nantinya.

Seperti dikutip dari Babycenter dan Parents, Rabu (31/3/2010) ada beberapa poin yang perlu diperhatikan orangtua dalam memilih nama bayi, yaitu:

1. Hindari nama yang membuat bingung jenis kelamin
Nama-nama tertentu memang bisa digunakan untuk jenis kelamin pria dan wanita. Sebaiknya memberikan nama yang sudah jelas untuk jenis kelaminnya. Nama internasional Courtney atau Aubrey sebenarnya lebih sering digunakan untuk nama wanita tapi beberapa orangtua memakai nama itu untuk anak lelaki, kasihan si kecil kalau terus-terusan disangka perempuan padahal dia lelaki.

2. Jangan terpengaruh nama-nama orang top
Memberikan nama artis yang sedang populer saat ini mungkin terdengar keren. Tapi kadang-kadang kelakuan selebritas yang ditiru berperilaku negatif seperti mabuk-mabukan atau narkoba. Kasihan si anak jika namanya seperti artis yang bermasalah.

3. Buatlah nama yang sederhana jangan terlalu panjang
Banyak anak-anak sekolah saat ini yang memiliki nama terlalu panjang, belum lagi jika ia harus membawa nama keluarga. Bayangkan jika si kecil harus menulis nama lengkapnya dalam setiap formulir atau kertas ujian yang menggunakan bulatan-bulatan huruf berapa banyak waktu yang harus dihabiskan.

4. Ejaan yang jelas
Banyak orangtua yang membuat nama anaknya dengan ejaan yang dibuat sendiri agar terkesan beda. Misalkan nama Susilo dibuatnya menjadi Shoosilow. Jika mereka berinteraksi dengan orang lain tentu yang mendengar nama Susilo akan mengeja dengan ejaan biasa, dan ini akan menjadi pekerjaan si anak seumur hidupnya untuk mengoreksi kesalahan nama yang ditulis orang.

Sementara pemilihan nama bisa dilakukan dengan pertimbangan:

1. Indah dan serasi
Bagaimana suatu nama terdengar saat ada seseorang yang memanggil adalah salah satu hal yang harus dipikirkan. Usahakan untuk mencari kecocokan dengan nama terakhir keluarga, atau antar kata terdengar indah jika digabungkan dalan sebuah nama.

2. Unik
Nama yang tidak biasa memiliki keunggulan yang membuat anak berbeda dari nama-nama umum lainnya, seperti tidak memiliki nama yang sama saat disekolah. Namun, nama unik ini harus tetap enak di dengar, serasi dan gampang dieja. Selain itu hindari nama unik yang aneh atau sulit diucapkan yang bisa menjadi bahan ledekan anak-anak.

3. Nama keluarga dan keturunan
Nama keluarga adalah sesuatu hal yang penting untuk mengetahui keturunan dari anak tersebut. Terkadang ada keluarga yang memberikan nama sesuai urutan kelahiran atau tradisi keluarga.

4. Memiliki arti positif.
Makna dari nama terkadang bisa mempengaruhi kehidupan si anak nantinya. Berilah anak dengan nama yang mengandung makna positif serta hindari nama-nama yang memiliki arti buruk. Terlebih sebuah nama akan dibawa anak sepanjang hidupnya.

5. Memperhatikan inisial dan nama panggilan
Usahakan orangtua menghindari nama yang dapat memicu julukan-julukan tertentu sehingga bisa memalukan anak. Serta carilah inisial nama yang unik dan nama panggilan yang mudah diingat atau mudah diucapkan.

Tidak ada satupun peraturan yang sulit dalam memilih nama untuk anak Anda. Tapi satu hal yang pasti dan harus diingat dalam memberikan nama untuk si buah hati adalah Anda dan pasangan sama-sama menyukai nama tersebut dan yakin nama itu cocok disandangnya hingga dewasa

sumber : http://health.detik.com/read/2010/03/31/074527/1329054/764/tips-memilih-nama-untuk-bayi

Selasa, 25 Januari 2011

Meramal Jenis Kelamin Bayi Tanpa USG

Lewat cara sederhana Anda bisa menebak jenis kelamin bayi di awal kehamilan.

Setiap orangtua tentu mengidamkam melahirkan bayi yang sehat. Entah itu, bayi laki-laki yang tampan atau bayi perempuan yang cantik.

Namun, tak bisa dipungkiri bila banyak calon ayah dan ibu yang sudah penasaran jenis kelamin calon bayi mereka sejak awal kehamilan. Masalahnya, jenis kelamin bayi umumnya baru bisa dilihat di layar ultrasound (USG) saat kehamilan berusia lebih dari 4 bulan.

Tapi, tahukah Anda, lewat cara sederhana Anda bisa menebak jenis kelamin si jabang bayi di awal kehamilan dan tanpa USG, seperti dikutip dari laman Modern Mom. Ingin tahu caranya? Ini langkah-langkahnya:

Langkah 1

Ketika memeriksa kandungan ke dokter, coba catat jumlah denyut jantung calon bayi setiap menit. Banyak orang percaya jika detak jantungnya terdengar sampai 140 kali per menit, kemungkinan besar dia berjenis kelamin laki-laki. Sedangkan jika denyut jantungnya kurang dari itu, bisa jadi perempuan.

Langkah 2

Coba perhatikan saat Anda ‘mengidam’ di awal-awal kehamilan. Jika Anda merasa selalu menginginkan makanan yang manis-manis, bersiap-siaplah memiliki anak perempuan. Sebaliknya, jika Anda menyukai yang asam dan asin selama kehamilan, ini diyakini akan melahirkan anak laki-laki.

Langkah 3
Juntaikan kalung dengan bandul di atas perut Anda. Coba perhatikan, jika cincin bergerak maju mundur, hal ini dipercaya jenis kelaminnya perempuan. Tapi, jika bergerak dalam pola lingkaran, seorang janin bayi laki-laki sedang tumbuh di dalam perut Anda.

Langkah 4
Perhatikan langkah kaki Anda saat berjalan. Jika berjalan anggun, besar kemungkinan Anda akan memiliki seorang putri. Tapi, jika Anda cenderung menjadi canggung dan lebih sering menabrak, Anda kemungkinan akan memiliki seorang putra.

Langkah 5
Ada juga yang percaya jika seorang wanita hamil mengalami mual dan muntah yang hebat, besar kemungkinan dia akan segera memiliki seorang anak perempuan. Tapi, jika saat hamil tidak terlalu mual dan muntah, bisa jadi bayinya laki-laki

Sumber : https://babyorchestra.wordpress.com/2010/12/06/meramal-jenis-kelamin-bayi-tanpa-usg/

Senin, 13 Desember 2010

Kewajiban Suami Ketika Istri Hamil dan Melahirkan

Ketika seorang ibu mengandung janin dalam rahimnya, benarkah hanya sang ibu yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup sang janin? Tentu tidak. Allah telah menentukan keberadaan nyawa si janin atas usaha dari dua manusia, ibu dan ayahnya. Kepada mereka berdualah Allah menitipkan amanat yang sangat berat itu. Sayangnya, lebih banyak ayah yang kurang menyadari tanggung jawabnya selama kurun waktu kehamilan tersebut. Penyebab utamanya, karena mereka tak mengalami beban itu secara langsung. Dan yang rugi bukan saja si janin, tapi juga ayahnya. Berikut di antara kewajiban ayah terhadap calon bayinya.

Kebutuhan Fisik

Orang tua tak boleh meremehkan faktor pemenuhan kebutuhan fisik janin. Pertumbuhan sel-sel otak, kualitas pertumbuhan badan serta tulang, sudah mulai ditentukan semenjak masa janin. Jangan sampai orang tua menyesal kemudian, saat menemui rendahnya kualitas pertumbuhan bayinya gara-gara lalai mempertahankan kebutuhan gizi di masa ini.

Secara kuantitas saja, ibu perlu makan lebih banyak dari biasanya untuk disubsidikan kepada janin dalam rahim. Belum lagi masalah kualitas, di mana makanan yang masuk harus cukup kandungan protein, vitamin, serta zat-zat gizi lainnya. Dan kewajiban ayahlah untuk menyediakan semua kebutuhan pangan ibu demi pertumbuhan janin tersebut.

Ayah harus rela memberikan kebutuhan ini, walau itu berarti ia harus menyediakan makanan berkualitas bagi istrinya dua kali lebih banyak dari biasanya. Jika hanya ada sepotong, tak ada salahnya ayah mengalah untuk memberikannya kepada ibu, karena akan bermanfaat untuk dua orang. Jangan pula lupa memberikan kebutuhan tambahan vitamin, penambah darah, serta kalsium bagi ibu. Ayah yang bijaksana akan rajin mengontrol pola makan ibu hamil, menyediakan makanan ekstra berkualitas dan memberikan motivasi kepada istrinya untuk rajin mengkonsumsi makanan-makanan bergizi tersebut.

Penelitian membuktikan, janin dalam kandungan sudah bisa merasakan sentuhan kasih sayang orang tua yang mengelus perut bundanya. Ia pun dapat menikmati suara lembut penuh kasih yang diperdengarkan orang tuanya di dekat perut ibu. Para ahli mengatakan, kelak setelah lahir, bayi akan lebih aktif merespons jenis suara yang kerap ia dengar semasa dalam rahim.

Kasih Sayang dan Perhatian

Memang, sentuhan kasih sayang dari ibu sudah cukup memenuhi kebutuhan kasih sayang bagi si janin. Namun penting diingat, bahwa untuk bisa memberikan perhatian dan kasih sayang penuh kepada janinnya, si ibu membutuhkan suasana kejiwaan yang tenang dan bahagia. Ibu yang tertekan dan stres tak akan bisa memberikan perhatian dan kasih sayangnya secara optimal kepada janin. Di sinilah suami akan mengambil peran besar dalam turut menjaga kesehatan kejiwaan istrinya agar tetap stabil, tenang, dan bahagia. Sebagai orang terdekat yang menjadi belahan jiwa bagi istri, ia bisa menjadi penentu kesehatan jiwa si istri.

Suami harus bisa memberikan perhatian penuh kepada masalah kehamilan istrinya. Misalnya saling berdiskusi mengenai perkembangan yang terjadi pekan demi pekan, bersama-sama mencari informasi mengenai kehamilan dan pendidikan anak dari media cetak maupun dengan bertukar pengalaman, menemani istri memeriksakan kehamilan setiap bulan, mendiskusikan rencana-rencana ke depan bagi calon bayi, hingga menyempatkan diri secara rutin mengelus perut istrinya sambil mengucapkan kalimat kasih sayang.

Akan lebih baik jika suami memberikan hak-hak istimewa kepada istrinya semasa hamil. Bukankah istrinya sedang mengalami perjuangan berat demi keluarga mereka? Suami bisa memilihkan hak-hak istimewa yang mendukung perkembangan kesehatan janin. Misalnya, dengan memberikan makanan ekstra bergizi, memberikan uang belanja tambahan, atau membelikan sebanyak mungkin buku dan majalah yang memuat informasi mengenai kehamilan dan pendidikan anak.

Hal lain yang penting diingat, bahwa dalam proses kehamilan terjadi perubahan kadar hormon yang bisa memberikan pengaruh besar pada kebanyakan wanita hamil, di mana emosi mereka menjadi lebih labil. Ditambah lagi dengan beban fisik yang tak ringan, wajar jika mereka lebih banyak membutuhkan perhatian dibanding sebelum hamil. Begitu beratnya beban yang harus ditanggung ibu hamil, sampai Allah berkenan memfirmankannya dalam kitab suci al-Qur’an, surat Luqman:14, “…Ibunya mengandung dalam keadaan lemah dan semakin lemah..

Pendidikan sudah bisa diterima manusia semenjak masih dalam kandungan. Ayah dan ibu punya kewajiban sama untuk memberikan pendidikan ini. Karena janin berusia tujuh bulan sudah mulai terangsang mendengar suara-suara di sekitar perut ibu, maka orang tua bisa memperdengarkan sesuatu untuknya. Memperdengarkan alunan ayat-ayat suci al-Qur’an adalah pilihan yang baik. Dan jika tak ada tape recorder yang bisa dilekatkan ke perut ibu, maka ayah dan ibu bisa bergantian untuk mengaji dengan suara keras di dekat perut ibu!

Proses Kelahiran

Suami yang bertanggung jawab pun tak akan kalah repot dan tegangnya dalam mempersiapkan saat-saat kelahiran janin, dibanding sang istri. Banyak sekali yang harus dilakukan suami untuk mempersiapkan masa genting ini, seperti menyediakan biaya persalinan, kebutuhan hidup calon bayi, pemulihan kesehatan ibu, hingga persiapan aqiqah calon bayi.

Selanjutnya, suami pun bertanggung jawab mempersiapkan kekuatan mental istri untuk melahirkan. Harus diingat bahwa ini adalah saat perjuangan hidup dan mati istri bagi keluarganya. Suami harus banyak memberikan perhatian, dorongan, serta motivasi kepada istrinya menghadapi masa sulit ini. Beberapa cara bisa ditempuh, seperti mengikutkan istri ke dalam kelas pelatihan pranatal (pendidikan pra kelahiran) yang banyak diselenggarakan di rumah sakit, hingga turut menemani proses kelahiran itu sendiri.

Adalah satu hal yang sangat positif, jika suami bisa ikut hadir saat proses kelahiran. Kehadiran suami ini, walau sekadar menemani, memegang tangan istri dan membisikkan kata-kata penghibur kepada istri, akan memberikan dorongan kekuatan mental ekstra bagi istri. Walaupun tak dapat mengurangi rasa sakit, namun kekuatan mental yang diperoleh istri akan membuatnya lebih kuat menahan sakit, yang pada akhirnya akan mempermudah proses kelahiran.

Mengenai keterlibatan suami pada proses kelahiran yang sekarang mulai banyak disadari orang ini, para ahli mengatakan bahwa selain bermanfaat untuk istri, inipun bermanfaat bagi suami sendiri. Ketika suami menyaksikan kesakitan yang diderita istri, perjuangan beratnya melawan maut, maka kelak suami akan lebih mampu menghargai dan memahami perasaan istrinya. Selain itu akan tumbuh perasaan khusus dalam hati suami terhadap sang bayi, sehingga akan lebih mengakrabkan ikatan batin antara ayah dan anak. Dan tentang rumor dampak negatif yang menyebutkan bahwa kehadiran suami saat kelahiran dapat membuatnya impoten, itu hanya kasus langka yang mungkin terjadi pada satu dari sejuta suami.Selamat membentuk putra dan putri yang soleh/hah dan mampu memikul amanah sebagai khalifah di muka bumi Allah swt.(kit/hidayatulloh)

Minggu, 21 November 2010

Keturunan Yang Sholeh dan Sholehah

Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa selalu menerima aktivitas ibadah kita Amiin 3x Ya Mujiba saa’iliin.

Para pembaca yang berbahagia, memang sudah menjadi sunnahtullah, setiap manusia diberikan oleh Allah hidup berpasang-pasangan. Untuk apa? Karena salah satu hikmah dari pernikahan adalah bukan hanya untuk bersenang-senang melampiaskan kebutuhan biologis atau nafsu birahi semata, melainkan untuk mencetak sekaligus memperbanyak keturunan umat islam, yang dapat membanggakan kita dikehidupan dunia maupun dikehidupan akhirat nanti. Hal ini tidak dapat kita pungkiri!, sebab Rasulullah SAW bersabda dalam haditsnya:

تَزَوَّدُوا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَاِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ اْلاَنْبِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: “Nikahilah perempuan yang mencintai kalian dan dapat memberikan banyak keturunan, agar aku (kata Nabi) dapat membanggakan jumlah kalian yang banyak dihadapan para Nabi nanti pada hari kiamat”.


Para pembaca sekalian, yang sangat-sangat dibanggakan oleh Allah dan Rasulnya. Setiap orangtua sudah pasti tentu, dititipi rasa rahmat atau kasih sayang yang sangat besar kepada anaknya. Kenapa demikian? Karena tidak ada seorangpun orangtua, baik yang berstatus sebagai Kyai, tukang becak kah dia, bahkan sampai preman sekalipun tidak menginginkan anaknya menjadi seorang anak yang berandal, semua orang tua pasti menginginkan anaknya itu menjadi seorang anak yang sholeh dan sholehah.

Yang kedua bentuk rasa kasih dan sayang orang tua terhadap anaknya adalah dia rela memeras keringat dan banting tulang pagi, siang, sore dan malam hanya untuk menafkahkan seluruh biaya kebutuhan anaknya sejak dari dalam kandungan bahkan sampai dia besar sekalipun, tanpa ada terbesit dalam hatinya sedikitpun ingin dibalas jasa-jasa baiknya oleh si anak.

Membentuk anak yang sholeh dan sholehah tidaklah mudah, terlebih dahulu harus kita tinjau dari berbagai aspek. Modal yang paling utama adalah kita benahi terlebih dahulu diri kita sendiri, halal atau haramkah nafkah yang selama ini telah dikonsumsi oleh anak kita? Jika ternyata haram, jangan harap akan mendapatkan anak yang sholeh dan sholehah. Kalau orang tuanya bejat mau tidak mau kebejatan itupun akan menurun kepada anaknya, sebab ibarat pohon! buahnya itu tidak mungkin jatuh jauh dari pohonnya.

Aspek yang kedua yaitu dari segi lingkungan, baik lingkungan di dalam rumah maupun lingkungan di luar rumah. Jika pergaulan anak kita di lingkungan yang agamis niscaya perilakunya pun akan bersifat agamis. Tetapi sebaliknya, jika anak kita berada di lingkungan yang rusak, dipenuhi dengan kemaksiatan toh lama kelamaan si anak yang awalnya baik pasti akan terjerumus juga di dalamnya. Naudzu billah tsumma naudzu billah.

Aspek yang ketiga pendidikan. Usahakanlah pendidikan agamanya sejak dini, bukan hanya pada sekolah-sekolah umum saja, akan tetapi pendidikan agamanya pun jauh lebih penting dibandingkan pendidikan umum. Sebab hanya pendidikan agama sajalah yang jangkauannnya jauh sampai ke penghujung negeri! Yaitu darul baqo atau negri akhirat, sehingga dengan anak yang berbekal ilmu agama sajalah yang dapat menyejukkan pandangan mata kita, Bahkan bukan hanya itu saja hadirin! berkat anak yang sholeh dan sholehah sajalah kita dapat memudahkan langkah kaki kita menuju ke gerbang pintu surga-Nya Allah SWT. Demikian, beberapa kriteria cara mencetak anak yang sholeh dan sholehah.

Para pembaca sekalian yang dirohmati Allah, pada suatu malam Nabi Allah Zakaria as bermunajat kepada Allah jalla wa azza, agar kiranya beliau diberikan seorang keturunan yang sholeh. Dengan munajatnya Nabi Zakaria as meminta:


رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاءِ
Artinya:: "Ya ِAllah, berilah aku ketutunan seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkaulah Tuhan yang Maha mendengar doa seorang hamba".


Kemudian beliaupun menambahkan seruannya:

يَا رَبِّى!!! اَللَّّهُمَّ اِنِّى أَسْأَلُكَ وَلَدًا صَالِحًا وَوَلِيًامِنْ عِنْدِ كَ

Ya Allah aku meminta kepadaMu agar aku diberikan anak yang sholeh dan menjadi seorang wali di sisiMu


Dengan munajatnya kemudian Allahpun mengabulkan permintaan Nabi Zakaria as, lalu lahirlah seorang laki-laki yang bernama Yahya. Setelah beberapa tahun kemudian, seiring dengan berjalannya waktu, tumbuhlah Yahya menjadi orang dewasa sebagaimana manusia pada umumnya. Namun, aktivitas hidupnya selalu berdzikir mengurung diri dalam kamarnya atau senantiasa mengagungkan nama-nama Allah SWT, dalam rangka bertaqorrub atau untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga semakin hari membuat Nabi Zakaria kebingungan akan tingkah laku anaknya.

Kemudian Nabi Zakaria as kembali mengeluh kepada Allah, kenapa anaknya yang bernama Yahya itu, tidak pernah membantu pekerjaan beliau dalam mencukupi kehidupan sehari-hari. Padahal, sebagaimana harapan seorang Ayah pada umumnya, agar kiranya setiap anak selalu berbakti dan selalu mentaati perintah kedua orang tuanya. Itu lah kewajiban seorang anak terhadap orang tua.

Setelah melewati beberapa tahun Nabi Zakaria as melupakan permintaannya dahulu kepada Allah, yaitu supaya diberikan seorang anak yang sholeh dan seorang wali disisi Allah. Lalu Allah SWT menjawab keluh kesah beliau: “Wahai Zakaria apakah engkau melupakan permintaan yang kau inginkan dahulu!!!” Nabi Allah Zakariapun diam dan termenung, "itulah pekerjaan seorang anak manusia yang sholeh dan seorang wali disisiKu” tegas Allah kembali. Maka seketika itu pula Nabi Zakaria as bertobat menyesalkan keluh kesahnya.

Nama Nabi Yahya as diabadikan namanya oleh Allah di dalam Alqur’an sebagai وسيداوحصورا ونبيا من الصالحين yaitu sebagai seorang tuan dan sebagai seorang Nabi Allah yang sholeh, padahal beliau hanya seorang hamba disisi Allah bukan seorang tuan. kenapa? Sebab dengan kelebihan yang dimilikinya beliau dapat mengendalikan hawa nafsu dari kesenangan- kesenangan dunia, diantaranya seumur hidup beliau tidak pernah menikah, beliau dapat mengalahkan godaan-godaan syetan untuk berbuat maksiat, beliau dapat menjaga lisan dari perkataan yang keji, dan beliaupun dapat menahan emosi dari amarahnya, itulah beberapa alasan kenapa Nabi Yahya as diabadikan namanya oleh Allah sebagai tuan di dalam Alqur’an.

Dari uraian di atas dapat kita petik pelajaran, jika kelak kita mempunyai anak yang rajin beribadah, hendaklah jangan sekali-kali kita ganggu ibadahnya dengan memerintahkan ini dan itu!!! karena, ibadah seorang anak yang shaleh merupakan investasi atau modal yang dapat kita tuai sebanyak-banyaknya di negeri akhirat kelak.

Saya kira cukup sampai disini pada kesempatan yang penuh dengan limpahan mubarokah dan ampunan ini, mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua, Amin3x ya rabbal ‘alamin.

Rabu, 29 September 2010

SEMOGA MENJADI PASANGAN YANG SAKINAH, MAWADDAH, WARROHMAH... (AMIN)

Pernikahan adalah awal dari sebuah kehidupan dan perjalanan hidup yang baru. Idealnya, perjalanan panjang hendaknya disertai dengan bekal yang benar dan cukup. Demikian pula dengan pernikahan, membutuhkan bekal yang tidak sedikit dan sembarangan. Berikut ini adalah langkah-langkah yang sepatutnya dilakukan dan diistiqomahkan oleh seorang muslimah dalam penantiannya untuk menuju sebuah pernikahan yang diridhoi oleh Allah swt. Langkah-langkah inilah yang insya Allah akan menjadi bekal untuk berlayar di atas lautan dan gelombang kehidupan dengan ombak dan badai yang selalu mengintai. Langkah-langkah inilah yang akan menjadi kompas dan bahan bakar untuk perahu pernikahan.

1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah

Menantikan seorang lelaki sholih yang akan meminang dan menyandingnya dalam sakralnya pernikahan memang akan memancing datangnya berbagai bentuk godaan. Untuk itulah, seorang muslimah hendaknya terus meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya (baik ibadah fardhu maupun sunnah) untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah swt. Insya Allah, dengan peningkatan ibadah ini Allah akan memberikan kekuatan dan pertolongannya untuk menghadapi godaan-godaan yang mencoba untuk menggoyahkan dan memikatnya.

2. Istiqomah dalam doa dan tawakal

Sesungguhnya, segala sesuatu yang terjadi maupun yang tidak terjadi adalah hanya atas kehendak Allah swt semata. Rizki, maut, dan juga jodoh, itu semua berada dalam genggaman Allah swt, tidak akan ada yang mampu merubahnya kecuali Dia. Dan sebagai manusia, yang diwajibkan hanyalah berusaha dan berdoa dengan sebaik-baiknya. Kemudian bertakwakallah kepada-Nya, serahkan dan percayakan segala keputusan final hanya kepada-Nya. Janganlah pesimis dan berburuk sangka kepada Allah, karena Allah akan mengikuti persangkaan hamba-Nya.

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqoroh: 153)

Istiqomahlah dalam berdoa agar diberikan pendamping hidup yang sholeh, dan dikaruniakan sebuah pernikahan yang barokah sehingga membawa kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Yakinlah bahwa Allah lebih mengerti apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Dan yakinlah, bahwa Allah hanya akan memberikan yang terbaik kepada hamba-Nya.

3. Mempersiapkan diri

Meskipun dinanti-nanti, namun pernikahan bukanlah hal sepele yang dapat dicapai dan dijalani dengan sembarangan atau asal mau saja. Ketika seorang wanita telah memasuki pintu pernikahan, maka secara otomatis kewajibannya pun telah bertambah (demikian pula halnya dengan laki-laki). Maka dari itu, hendaknya seorang muslimah senantiasa mempersiapkan dirinya sebelum seorang pangerang yang diutus oleh Allah swt datang untuk menjemput dan membawanya menuju istana pernikahan yang sakral.

Teruslah membekali diri dengan ilmu, khususnya ilmu agama, dan terutama ilmu agama yang berkaitan dengan masalah kerumah tanggaan. Selain itu, seorang muslimah juga harus membekali dirinya dengan keterampilan berumah tangga. Dan bekal yang terakhir adalah mempersiapkan diri untuk menjadi seorang isteri sholihah yang taat dan senantiasa menyenangkan hati suami.

Saudariku, pernikahan adalah dambaan bagi setiap insan, tidak terkecuali seorang muslimah. Dan menunggu pangeran sholih yang akan menjemputnya menuju mahligai pernikahan yang sakral, bukanlah perjuangan yang ringan. Gelisah, gundah, tanda tanya, harap, cemas, semua membaur menjadi satu. Namun, sekali lagi pernikahan bukanlah ikatan yang dapat dijalin dengan “mau” saja. Untuk menuju pernikahan yang barokah, dibutuhkan bekal-bekal yang benar dan cukup. Jangan sampai kita kehabisan bahan bakar ataupun perbekalan ketikan sedang menyelami lautan pernikahan. Terlebih lagi menyelami lautan pernikahan tanpa membawa bekal, anda akan kelaparan dan kehausan. Jangan sampai anda melupakan peta dan kompas manakala hendak menjelajahi belantara pernikahan.

Saudariku, rindukanlah sebuah pernikahan sakinah, mawaddah, warrohmah. Rindukanlah seorang pendamping hidup yang akan membawa ikatan pernikahan mulia di dunia dan akhirat. Dan tidaklah sebuah pernikahan akan sakinah, mawaddah, warrohmah, melainkan dengan kita memperjuangkannya di jalan yang diridhoi oleh Allah, melainkan kita masuki pintu pernikahan tersebut dengan menyebut asma Allah. Dan tidaklah senuah pernikahan akan sakinah, mawaddah, warrohmah, kecuali kita menjalankannya dengan bekal yang cukup, dengan bekal yang benar. Allah, adalah pangkal tolak dan arah melangkah kita dalam menanti dan mengemudikan sebuah pernikahan.

Pernikahan yang barokah adalah pernikahan yang dilandasi dengan nilai-nilai iman dan takwa. Hanya pernikahan yang barokahlah yang akan memberikan kebagiaan dunia dan akhirat. Pernikahan dibawah naungan islam, pernikahan dibawah naungan Allah adalah pernikahan yang menjadi dambaan orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Tiga langkah di atas merupakan secuil ikhtiar yang jika direalisasikan dengan penuh keikhlasan, kesabaran, dan keistiqomahan, insya Allah akan menjaga diri kita dari godaan-godaan yang menerpa manakala berada disebuah jalan menuju pernikahan. Dan insya Allah akan menjadi bekal yang sangat bermanfaat dalam mengaruhi bahtera pernikahan kelak.